Ragam Seni Tradisional Jakarta yang Perlu Diketahui

Jakarta atau biasa dikenal dengan DKI Jakarta merupakan Ibukota negara Indonesia sekaligus menjadi kota tersibuk di Indonesia, hal ini tidak mengherankan apabila melihat Jakarta sebagai pusat pemerintahan sekaligus pusat bisnis.

Dengan menjadi pusat bisnis dan pemerintahan, DKI Jakarta sukses menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar Jakarta untuk datang dan mengadu nasib, hal inilah yang membuat DKI Jakarta juga menempati posisi pertama sebagai kota terpadat di Indonesia, bahkan di dunia.

Akan tetapi, perlu kita ingat bersama walaupun banyak terjadi proses akulturasi di Jakarta, sejatinya terdapat suku asli Jakarta yaitu Suku Betawi.

Suku Betawi sendiri merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Indonesia dengan persebaran suku Betawi tidak hanya terpusat di Jakarta saja, melainkan juga ke daerah-daerah penyangga Jakarta, sebut saja seperti Tangerang Selatan dan Depok.

Terdapat banyak sekali jenis-jenis seni tradisional yang sering kita jumpai di kehidupan nyata, misalnya saja pantun Betawi yang biasa digunakan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan atau acara formal lainnya.

Terdapat juga jenis seni tradisional lainnya seperti roti buaya yang dijadikan sebagai barang seserahan ketika ingin melangsungkan pernikahan, serta tidak ketinggalan juga aksi ondel-ondel yang diiringi oleh lagu khas Betawi tentu pernah dijumpai bukan?

Berikut ini adalah Ragam Kesenian Tradisional Jakarta yang dirangkum oleh discoverasr.com

1. Ondel-Ondel Sebagai Budaya Betawi Sekaligus Ikon Ibukota Jakarta

Bagi warga Jakarta pasti sudah tidak asing lagi ketika mendengar Ondel-ondel, yang sukses menjadi ikon kota Jakarta dan cukup mudah untuk ditemui. Biasanya Ondel-ondel ditemui ketika terdapat sebuah acara formal seperti perayaan HUT Jakarta, acara pernikahan, hotel, dan lain sebagainya.

Kehadiran ondel-ondel ini memang tidak dapat dilepaskan dari budaya Betawi, terlebih setelah almarhum Benyamin Sueb membuat lagu berjudul Ondel-ondel.

Ondel-ondel sendiri memiliki beberapa versi sejarah, pertama datang dari pedagang Inggris bernama W Scot yang datang ke Batavia pada tahun 1600 masehi, Scot mengaku melihat adanya seni pertunjukkan boneka raksasa yang dilakukan oleh masyarakat Sunda Kelapa ketika melakukan upacara adat.

Versi kedua datang dari wisatawan asal Amerika Serikat yang bernama E.R Scidmore yang telah menetap cukup lama di Batavia. Dalam bukunya yang berjudul “Java, The Garden of The East”, Scidmore mengungkapkan bahwa terdapat boneka raksasa yang diarak ramai-ramai oleh masyarakat di jalanan, hal ini yang membuat Scidmore menyebutnya sebagai seni jalanan.

Namun, menurut cerita turun-temurun sesepuh Betawi, Ondel-ondel telah ada sejak zaman nenek moyang dahulu yang diperuntukkan sebagai cara dalam menolak bala atau untuk mengusir gangguan roh-roh jahat.

Kini Ondel-ondel digunakan sebagai pertunjukkan seni pada acara-acara formal seperti pernikahan, penyambutan tamu, atau bahkan peresmian gedung baru.

2. Lenong Betawi, Sebuah Aksi Teatrikal yang Terkenal Ceplas-Ceplos

Selain daripada seni tradisional Ondel-ondel yang masyarakat Betawi miliki, masih terdapat seni tradisional asal Betawi yang tak kalah populer yaitu Lenong Betawi. Lenong Betawi pada dasarnya adalah seni pertunjukkan khas Betawi terdiri dari dialog yang mengalir spontan, ceplas-ceplos, serta dibumbui dengan humor.

Pertunjukkan Lenong biasanya juga disertai dengan iringan musik Gambang Kromong dan tak lupa interaksi antara para pemain Lenong dengan para penonton yang seakan tidak ada sekat, hal itu lah yang ternyata menjadi ciri khas dari sebuah pertunjukkan Lenong Betawi.

Pertunjukkan Lenong Betawi dipercayai telah ada sejak tahun 1920-an dan merupakan produk budaya asli masyarakat Betawi, adapun pertunjukkan Lenong Betawi tak dapat dipungkiri juga dipengaruhi oleh budaya-budaya lain seperti dari seni opera Eropa, Melayu, dan Tionghoa.

Lenong Betawi juga selalu penuh makna dan pesan, banyak pesan-pesan yang sering disampaikan misalnya saja pesan satire, pembelaan terhadap kelompok yang lemah, atau respon masyarakat dalam menghadapi dinamika sosial. Secara umum, terdapat dua jenis Lenong Betawi yang biasa dikenal oleh masyarakat, yaitu Lenong Denes dan Lenong Preman.

Lenong Denes telah muncul lebih dahulu apabila dibandingkan dengan Lenong Preman, akan tetapi dalam perjalanannya Lenong Denes kurang begitu dikenal dengan baik oleh masyarakat Betawi karena ceritanya yang kurang relevan dengan kehidupan masyarakat Betawi, misalnya saja tentang kehidupan bangsawan, pangeran, putri, dan lain sebagainya.

Hal itu juga yang membuat Lenong tersebut memiliki kata Denes, yang berasal dari “Dinas”, yaitu seseorang yang berpakaian rapi layaknya seseorang yang memiliki pangkat tinggi.

Selain itu, Lenong Denes juga menggunakan Bahasa Melayu tinggi dalam dialognya, sehingga para pemain tidak begitu leluasa dalam menjalankan aksinya. Kata-kata yang biasa dipakai seperti tuanku, baginda, kakanda, adinda, beliau, dan lain sebagainya.

Adapun Lenong Preman atau Lenong Jago sangat berbeda dengan Lenong Denes, Lenong Preman pun pada perjalanannya lebih terkenal dibandingkan dengan Lenong Denes, hal ini dikarenakan mayoritas topik pembahasan Lenong Preman diangkat langsung dari permasalahan sosial yang timbul di masyarakat Betawi, seperti muatan kritik.

Lakon yang dibawakan oleh para pemain juga tidak lepas dari kehidupan sehari-hari seperti drama rumah tangga, tuan tanah serta pakaian yang digunakan pun pakaian sehari-hari masyarakat Betawi.

Terlebih dalam Lenong Preman tidak menggunakan Bahasa Melayu Tinggi, melainkan menggunakan Bahasa Betawi yang membuat suasana keakraban dana komunikasi interaktif tercipta antara pemain dan juga penonton.

Fakta menarik tentang Lenong Preman ternyata tidak hanya berkembang di wilayah Jakarta saja, tetapi persebarannya juga turut mencapai Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, dan Kabupaten Tangerang.

3. Mengenal Lebih Dekat Tradisi Khas Pernikahan Betawi, Palang Pintu

Pernah mendengar tradisi Palang Pintu? Atau setidaknya menonton di acara televisi? Palang Pintu merupakan tradisi khas Betawi yang dikhususkan bagi mempelai pria ketika ingin melaksanakan pernikahan.

Dalam tradisi yang dilakukan, mempelai pria ditantang untuk mengalahkan jawara dari mempelai wanita, biasanya tokoh setempat atau saudara kandung dari mempelai wanita.

Memiliki nama “Palang Pintu” artinya seorang mempelai pria harus melewati penjaga (tokoh setempat/kerabat mempelai wanita) yang dianggap sebagai palang pintu, yaitu seperti penghalang.

Hal ini bertujuan supaya mempelai pria harus sudah siap sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan, serta juga menjadi bukti bahwa mempelai wanita sangat dilindungi oleh keluarganya.

Dalam tradisi Palang Pintu, mempelai pria biasanya ditantang untuk beradu silat hingga membaca Al Quran, hal ini semata-mata untuk mendapatkan restu dari keluarga mempelai wanita.

Ads
Lebih baru Lebih lama